Terkadang aku tak mampu mengerti. Dunia apa yang sedang aku jalani saat ini. Terlalu rumit untuk dicerna, katanya. Kadang hati sudah ingin berkonsolidasi dengan segala-segala kemungkinan yang terpampang di depan mata, namun ada saja ganjalannya. Ada saja penghambatnya. Ffiuuh...
Kita bahkan tak tahu. Pada titik mana kita akan tersandung. Segalanya terasa rapi kini, ketika realitas belum terwujud. Masih sebatas planning-planning matang. Pernahkah sadar sedikit saja, bahwa sematang apapun planning itu, masih bisa berubah sedikit atau bahkan berubah secara keseluruhan? Kadang keadaan memaksa kita harus merubah rencana. Bukankah begitu? Lagipula sudah ada 'Sutradara' yang melakonkan kehidupan kepada kita. Sewajarnya jika sering berubah...
Banyak hal yang kurencanakan dalam hidup ini. Mungkin karena pengaruh orang tua yang tak ingin anaknya berakhir pada kesia-siaan (semua orang tua tentu berharap seperti itu), aku merencanakan segala sesuatu terkadang terlalu muluk. Terlalu banyak impian. Namun, entah kekuatan darimana, sedikit demi sedikit juga terwujud. Bisa dibilang aku sukses meraih mimpi meski belum terwujud semuanya. Planning-planningku juga tetap sama. Hanya ada beberapa tambahan. Kadang aku malah lebih sering mengikuti arus daripada 'rencana masa depan'ku sendiri. Lebih terasa nyaman. Tetapi sebelum aku terhanyut. Aku harus segera sadar. Aku tak boleh terlena. Aku juga harus memikirkan masa depanku yang bukan hanya menjadi milikku. Aku ditakdirkan untuk mengabdi, bukan dilayani. Memberi, bukan meminta. Hidup terkadang terlalu menuntut menurutku. Tetapi bukankah memang harus begitu?
Sekarang, ketika tak dinyana api cinta mulai menjilatku. Aku mengambil seember air untuk segera memadamkan apinya yang sepercik. Aku tak boleh terlibat pada kisah percintaan serius. Tak boleh. Banyak orang yang menungguku menjadi 'orang'. Banyak hal yang harus kukerjakan. Mungkin banyak yang menganggapku main-main. Tetapi aku telah mendapat tamparan keras kemarin. Saat aku 'mencuri start' untuk mencicipi madu cinta. Kini aku tak boleh terjatuh pada lubang yang sama. Tak boleh bermain-main dengan percikannya atau akan terbakar oleh sulutannya. Aku harus sabar menunggu. Ada saatnya.
Aku harus segera mengantisipasi segala hal. Aku mempertaruhkan masa depanku dan orang banyak. Aku harus mulai belajar bertanggung jawab sesungguhnya. Kembali menuju sadar sesungguhnya.

Yogyakarta, 31 Juli 2009

Dalam kepalaku mengalun lagu Frente -Bizzare Love Triangle-

"Everytime I think of you
I get a shot right trough into a bolt of blue
It’s no problem of mine but it’s a problem I find
Living a live that I can’t leave behind

There’s no sense in telling me
The wisdom of a fool won’t set you free
But that’s the way that is goes and this what nobody knows
And every day my confusion grows

Everytime I see you falling
I get down on my knees and pray
I’m waiting for that final moment
You say the words that I can’t say

I feel fine and I feel good
I feel like I never should
Whenever I get this way I just don’t know what to say
Why can’t we be ourself like we were yesterday

I’m not sure what this could mean
I don’t think you what you seem
I do admit to my self that if I hurt someone else
Then I never see just what we’re mean to be

Everytime I see you falling
I get down on my knees and pray
I’m waiting for that final moment
You say the words that I can’t say

Everytime I see you falling
I’ll get down on my knees and pray
I’m waiting for that final moment
You say the words that I can’t say"

Aku jatuh cinta. Itu saja. Terimakasih.
Yogyakarta, 06 juli 2009

--Mulai memahami diri sendiri--
Kadang aku merasa bahwa terlalu berat beban yang disampirkan pada pundakku. Namun seseorang berkata padaku, "Jangan menganggapnya beban. Tentulah merasa berat...", mungkin benar juga. Lalu pertanyaannya adalah, 'Aku jadikan apa?'.
Banyak orang yang hanya berhasil menjadi konseptor besar tanpa mampu berperan sebagai praktisi yang besar pula. Hmm... aku suka berfikir begini. Karena yang terasa adalah 'seolah-olah' aku lah yang paling benar.
Sejak kecil, saat aku tahu 'Harapan' apa yang disampirkan padaku, aku sering berfikir. Siapa aku ini? Mengapa hidupku harus berbeda dari anak seusiaku? Akankah aku sebebas mereka? Namun ayah selalu memberikanku kemerdekaan berfikir melalui buku-buku yang dibelikannya untukku. Sehingga aku selalu merasa lebih pintar dari mereka.
Sombong.
Aku sudah tahu. Terkadang seseorang kurang 'bisa' menerima kelebihan yang ada pada diri mereka. Beginilah, terlalu 'rapuh' hingga merasa angkuh. Sejak kecil aku memang memiliki sifatku yang sekarang.
Sekarang, siluet-siluet tampak nyata terang dalam pandanganku.
Haruskah begitu??

Hmm...
Ini masih juli. Terkadang aku teringat dengan beberapa perasaan yang ambigu. Hingga benar tak terlacak.

Jelas dan amat terang pembacaan dalam memoriku.
"Tak ada yang lebih indah dari puisi selain bicara tentang kebenaran..."
-Soe Hok Gie-

Indah bukan?
Atau masih sangsi?

Tidak jadi nonton Festival Gamelan di detik-detik akan berangkat ke TBY. Kesal bukan?

Beberapa malam terakhir ini aku selalu bermimpi tentang masa kecilku. Entah itu berkisah tentang indahnya atau sesuatu yg tak ingin aku kenang lagi.
Aku seperti terbangun pada sebuah kesadaran yang selama ini tersembunyi dari rutinitasku yang memang menyita waktu. Tuhan sepertinya ingin aku mengingat itu. Ingin aku mengenang kembali. Tak ingin aku serta merta lupa.
Mimpi-mimpiku seperti siluet indah namun mencekam. Melemparkan aku pada masa kecil yang nyaris tak ku ingat. Hmm...
Mimpiku begitu lengkap berkisah tentang aku. Tentang kenakalanku. Tentang impian-impian manisku. Aku tak ingat. Tapi, ternyata alam bawah sadarku begitu ingat.
..........
Saat itu aku berumur 4 tahun dan Bunda telah menyuruhku mengaji setiap sore di rumah seorang ustadz NU yang baru datang dari Jawa. Karena tergoda ajakan seorang teman, aku tak pernah mengaji. Setiap sore aku selalu nangkring di atas pohon cermai. Menyesap kecutnya yang kusuka. Hingga kini pun, Bunda tak tahu tentang itu.
Umurku 6 tahun, tapi aku sudah hafal surat-surat pendek. Walau sedikit. Bunda bangga sekali padaku. Dengan senang, diajaknya aku nyekar ke makam mbah putri dan mbah kakung di Cepu. Padahal, sepupu-sepupuku yang lain tak pernah di ajak orang tuanya. Konon, makam mbah kakung itu angker. Namun kata Ayah, yang namanya cucu, tak mungkin disakiti. Jadilah hari itu aku nyekar ke makam mbah kakung dan mbah putri.
Sejak kecil aku tak suka tinggal diam di rumah. Aku suka melakukan aktifitas di luar rumah. Bermain dari pagi hingga malam tanpa pulang aku sanggup. Biasanya, Mbak Min, pengasuhku, akan pontang-panting mencariku kesana-kemari.
Jika hari libur, Ayah akan mengajakku ikut bermain layangan bersama anak-anak tetanggaku di lapangan depan rumah. Ayah tak pernah berfikir bahwa layangan hanyalah mainan untuk anak laki-laki. Biasanya Bunda yang melarangku ikut. Bunda tipe ibu-ibu cerewet yang terlalu khawatir dengan anak-anaknya.
Anak-anak kecil seusiaku tak banyak saat itu. Meski tak banyak, aku sudah lupa nama mereka satu-persatu. Bahkan teman sebangkuku ketika SD pun aku tak ingat. Waktu memang telah banyak merubahku. Lapangan depan rumah juga sudah tidak ada lagi. Berganti dengan rumah mewah berderet-deret (yg dibangun Ayah).
..........
Aku tak ingat jelas masa kecilku. Yang kuingat, aku banyak menelan kekecewaan atas musnahnya mimpi-mimpi yang aku rajut saat itu.

bersambung...

Wednesday, July 08th 2009.

Malam ini sungguh tak ada ide. Minus inspirasi. Membuat lelah otak dan imajinasi. Mungkin aku perlu refresh beberapa jenak hanya untuk mengembalikan sajak yang hilang karena inspirasiku entah kemana. Bingung aku membaca kata-kataku sendiri. Oke, aku akan memalingkan wajah pada lembaran naskah novelku yang tak pernah kusentuh beberapa waktu.

(Ini ceritanya aku lagi mau buka file novel)
Klik…klik…klik…

……..
………….
……………..
Zzz…
Zzzzzz……
Zzzzzzzzz…….

Kok malah mau tidur?
@#R!$#^$&%*()&)&)*&&^&%%$#@#!!#@$%@

Oke, oke, aku nggak serius. Hmm… baru membuka mata ingin membaca malah malas. Entah, bagaimana caranya, malas akhir-akhir ini dengan amat mudahnya menggelitiki aku yang sedang jenuh. Padahal masih ada beberapa buku yang juga harus di resensi.

Ffiuuh…
Pingin jalan-jalan. Ke Ketep kayaknya enak, ya… Tempatnya adem. Jauh lagi. Bagi anda-anda para pembaca yang belum tau Ketep, akan saya jelaskan. Ketep adalah salah satu daerah pegunungan yang dijadikan tempat wisata. Mirip-mirip puncak di Bogor gitu deh. Tempatnya enak dipake pacaran (Lho? Nglantur!) –maaf yang ini diralat- tempatnya enak buat dijadikan sumber pembangkit inspirasi. Khususnya bagi anda-anda yang membutuhkan inspirasi sebagai penopang hidup (ngomong apa siy gue?)ya gitu, deh, pokoknya.
Eits, bentar dulu. Aku tau apa yang sedang anda semua fikirkan. Emang punya duit? Iya, deng! aku lagi tongpes. Hiks…hiks… Impian indah mau walking-walking ke ketep sirna mengingat dompet lagi kosong, bersih dan mulus bebas tanpa hambatan (emang punya dompet? He3).

Jiah...!
Mati ide lagi deh, gue! Oke, sebagai mahasiswa miskin dan penulis nggak laku (Ehem! Semoga kalian-kalian yang mengenal aku dengan baik tak pernah membaca tulisan ini. Amin.) mending kayaknya cari tempat refreshing yang murah tapi deket (bukan bonbin, emang aku anak TK?) apaan ya???
Aha! Mall! Aku harus berubah jadi anak mall sekarang! Tapi kalo ke Mall juga harus ada duit kan... Nggak mungkin kita cuma window shopping doank! Lagian aku kan masih terapi shoppaholic. Ntar malah gagal lagi!

Jiah...!
Kehabisan ide lagi! Bingung niy mau ngapain...

Yaudah, nonton film ajah deh.
Finally, setelah melalui berbagai ide yang berakhir kebuntuan, aku memutuskan untuk nonton film 'Vicky Christina Barcelona' dan 'Happy Feet' sepanjang malam.
Hmm...

Sunday, July 05th 2009
(Kemarin-kemarin ni laptop rusak, jadi baru bisa nge-post sekarang!)

Halo, disini Windha Larasanti Ibrahim. Melaporkan dari kamar kos yang luas karena ditinggal teman sekamarnya. Ingin mengeksploitasi penderitaannya selama Weekend ini.
Oke, pasang telinga baik-baik. Berikut laporannya,

Winda said,
"Malez banget neh. Weekend-weekend gini(maksudnya lagi nggak ada duit, nggak ada temen) menanti nasib. Nungguin ada yang ngajakin keluar. Malam minggu neh... Sedih banget! Gak ada yang ngajakin keluaaar!!! I'm boring!

Haloo... Orang-orang pada kemana nih?? Kok nggak ada yang ngajakin tuan putri (maksudnya aku >_<) keluar??

Ppfiuh...

Malez cuiy...
Ni ada senior yang nelpon aku. Ngajakin keluar. Jalan-jalan katanya. Tapi ngajakinnya ke...

BLANDONGAN.

Hadah! Nggak seru banget siy??
Yawdah deh. Mang nasib loe, win...

Daripada di kos merana??

Si Jelek! Kok pulang lagi siy?
Febrian Danastri! Kapan balik? Kos gede banget nih...
Susah bersihinnya!

Yaudah deh, terpaksa! Ngabisin weekend di BLANDONGAN. Okelah."

Baiklah pemirsa. Sekian sekilas info pada petang ini.

Ffiuh...
Nggak ada yang aku dapatkan dari diskusi tadi malam kecuali ngantuk dan beberapa cemilan. Pikiranku sumpek mikirin IP yang jelek dan kerjaan yang tanpa permisi menumpuk tanpa kuminta. Nggak tau ya, kalo aku sedang dalam fase JENUH?
Itulah PMII, seluruhnya berisi cas-cis-cus bernada PMII dan orang-orang yang 'sangat PMII'. Mumet gila!

Temen-temen ngajak nongkrong semalem. Tapi aku nggak mau. Malez benget gitu jadi kelelawar terus. Capek. Lagi pengen nonton tv ajah...

$@##$$$^*&^(*&(*)^%%$$#....

STOP! STOP! OK!
I Know! Banyak yang bertanya-tanya, kenapa aku malah pengen nonton tv??? Gak papalah... Kali ini ajah...
Lagian nanti bukannya aku bakal kerja dengan segala atribut tv??
Hehehe...
Nglantur ajah neng!

Sepi banget siy nih kos.
Kamar ini terasa sangat amat luas ditinggal salah satu penghuninya.
So, I'm Alone... Yuhuu...

Nggak kerasa yah, udah weekend lagi. Weekend ini mau ngapain yaah??
Ffiuuh...
Lagi nggak ada duit. Jadi nggak bisa ngapa-ngapain.
Pengangguran, dunk?
Hehehe...

Berdosa banget sama Bani Israil yg suka ku ledekin 'PENGANGGURAN'.
Siaaah...

Kok makin nglantur, yah?
L. H. O.
Lho??
Bukannya ini emang edisi nglantur?
Hahahaha...

Udeh dulu yaw!
Ntar kalo ikutin aku terus, bisa ketularan gila!
Biasa, orang mati gaya ya kayak aku gini nih!
Okelah!
Bye! C U...

Dengan secangkir kopi pahit hasil luwak beroksidasi.
Kubuka kabar pagi itu tanpa basi.
Kudapati senyum kekasihku begitu merdu mendera telingaku.
Ah, tak ingin ku kehilangan gairah pagi ini.
Sungguh.
Dengan jemantik yang halus memindai ujung gairah.
Bagai aliran gejolak yang tak terarah.
Hasrat yang tumpah.
Ujung mataku menangkap sebuah orbituari pada kabar itu.
Kekasihku yang lain menyentuh alam lain.
Aku tersedu.
Lalu aku kehilangan senyum dan gairah kekasihku.

Kudapati diriku dalam alam tanpa sadar yang begitu kelam.
Terhanyut hingga ke muara yang petang, bau usang.
Longoklah dalam pada dinding kaca yang sengaja menyerpihkan tubuhnya kecil-kecil.
Menusuk-nusuk manis pada sepotong hatiku yang jambu.
Ingatkah kau kawan?
Pada kisahku yang membulirkan air asin pada sudut matamu?
Mencengkam bukan?
Seperti itulah rasa sunyi yang menyambangiku malam-malam.
Begitu syahdu mengajakku menikmati keindahannya hingga kepayang.
Romantisme kesunyian itu hilang dibawa kelam yang memetangi alam.
Aku tak ingin kehilangan sunyi.
Sunyiku kudu mencengkam.
Agar kudapat menangkap bayang-bayang.

Tertinggal? Hmm...
Jauh sudah aku memikirkan bayangan kelabu yang berserakan di memori otakku. Tampaknya memang enggan beranjak. Aku merasa kehidupan telah jauh berjalan, terlalu cepat berlari, hingga ku tak sempat untuk mengikuti.
Itu memang karena aku yang hanya mempu berdiri di tempatku berpijak ini.
Ppffiuh...
Speechless, you know?
Sampai kapan hal ini harus terjadi?
Aku tidak menyukai bayangan laluku berjalan disampingku.\
So, pahamilah aku yang telah membuang semua itu dalam pada bongkahan batu, tanah dan kerikil. Lucunya aku, yang menjadi sangat anti pada masa lalu yang terus mengejar.
Tak sadarkah, masa depanku di pelupuk mata?
Kawan-kawanku, nantilah aku!
Masa laluku, pergi jauh dari hidupku!

Semua yang berada dibelakangku mulai berubah ketika kumantapkan langkah mengarah ke masa depan. Kematian selalu ada setelah kehidupan. Bukankah begitu? Dan setelah masa lalu, selalu ada masa depan. Tuhan memiliki alasan dan kita punya kesempatan.

Beberapa bulan terakhir ini, setelah melalui banyak hal yang mencengangkan dan sulit untuk kulupakan, aku mulai menyadari hidup seperti apa. Kemudian kuputuskan untuk melanjutkan hidupku. Aku berhak untuk itu.

Biasanya setiap orang memulai harinya setiap senin. Namun aku memulai hari saat minggu. Aku mengajar hari ini. Muridku lucu sekali. Kadang aku ingin menyelami alam pikirannya. Berpura-pura seperti dia. Agar aku dapat mengoreksi cara mengajarku. Membosankankah atau monotonkah. Tapi, sia-sia. Aku nggak bisa. Bagaimana mungkin gadis berusia 19 tahun mencoba menjadi lelaki berusia 8 tahun?

Stupid!

Tapi kupikir mengajar menyenangkan juga. Aku hanya perlu bertahan...

It's my life.

Biasanya ketika pagi menjelang, dengan senang hati akan mendengarkan irama burung dan sebagainya. Tapi, disini, yang kudengar hanyalah kicauan sepeda motor yang melengking keras. Merusak pagiku dengan secangkir teh hangat.

Semalam, setelah insomnia kambuh lagi, aku menenangkan diri dengan segelas susu coklat yg katanya mampu membuat ngantuk. Efektif! Akhirnya aku tidur... dengan sebelumnya mengakhiri semua obrolan dengan beberapa teman di facebook.

Hari ini mau ngapain, yaa....

Beberapa teman mengajak keluar. Malez banget...
Ke LIP? Aku gak mau dengerin orang ngomong Perancis lagi!
Ah,
Si Jelek lagi ngapain, y, dirumah?
Hmm...

Pengen sante-sante aja minggu ini. Kangen si Jelek, tapi sebel juga.

Harusnya pagiku istimewa. Istimewa dengan segala planning yang rapi. Ah, jadi orang santai aja hari ini! No more planning...

Dan tak kudengar alam berdendang...

Hei! Kemana aja loe?
Lama nggak nongol! Gitu kali yaa, kalo blogku bisa protes ke aku..
Hmm.... Aku ngarasa akhir-akhir ini memang ngoyo banget. Jadi nggak ada waktu buat diri sendiri dan orang tersayang.
Tapi aku yakin. Ini baru awal. Aku ingin menjejak langkah yang tertinggal. Agar semua orang tak mudah melepas aku dari ingatan mereka.
Kejam pada diri sendiri? Nggak juga. Dulu aku terlalu memanjakan diri. Kini saatnya kerja keras dan mencari jalan mempelajari arti hidup.
Kejam pada orang tersayang? Nggak juga. Segalanya berjalan baik menurutku. Si Jelek juga nggak pernah mengeluhkan intensitas ketemu kita yang super sempit. Pengertian, that's the key! Dia juga nggak kalah sibuknya sama aku.

Huuaah.... ngantuk!
It's time to sleep...
Bye!

Dulu saya sangat tertarik dengan kehidupan angkasa luar. Entah itu UFO, ET dan lain-lain. Saya selalu yakin, bahwa alien, makhluk berlendir berwarna hijau itu benar-benar nyata. Hingga akhirnya saya menjadi sangat menyukai memandang bulan dan bintang di malam hari (waktu itu saya berharap dapat melihat bayangan manusia berjalan di bulan. Neil Amstrong benar-benar menjadi ilham kenapa saya begitu). Dalam sekejap saya menyukai sains. Menyukai bintang. Bulan. Angkasa luar. Mengamati langit di malam hari. Berharap suatu saat saya dapat menjejak langkah di bulan.

Hari-hari saya habiskan hanya untuk membaca buku di perpustakaan kota (orang tua saya telah membuatkan kartu anggota perpustakaan kota sejak saya sudah bisa membaca. Berarti saya telah memiliki kartu perpustakaan ketika berusia empat tahun! Adakah anda seperti saya?). Saya banyak membaca buku tentang itu semua. Bahkan saya menguasai banyak teori terciptanya alam semesta (sekarang tak ada jejaknya dalam otak saya, yang tersisa hanyalah teori Big Bang). Semakin lama, saya semakin sadar. Alam semesta menyimpan banyak misteri dan saat itu juga saya berkeinginan untuk mengabdikan diri pada NASA, agar hasrat keilmuan saya akan alam ini terpuaskan. Ketika anak seusia saya menyukai bermain Barbie (saya lahir dan besar di kota. Jadi mainannya adalah Barbie. Bukan gobhak sodhor), saya lebih asyik membuat gambar tentang UFO, memainkan imajinasi ketika bertemu dengan ET, menonton film tentang luar angkasa, berharap di recruit Power Rangers untuk membasmi alien jahat, dan lain-lain (saya sempat takjub dengan diri saya sendiri, bagaimana bisa saya mampu mengerjakan itu semua, melihat kesibukan saya yang padat sebagai anak kecil?)

Waktu itu saya baru berumur delapan tahun. Kesukaan saya yang berlebihan ternyata membuat Bapak khawatir. Kemudian dialihkanlah perhatian saya dari UFO ke kehidupan Dinosaurus. Diajaknya saya menonton film kartun tentang dinosaurus, seperti Little Foot dan Dinosaurs. Dibelikan ensiklopedia tentang jenis-jenis Dinosaurus dan miniature Dinosaurus. Ternyata Ayah tak berhasil menghilangkan problem kecanduan saya. Bukan, bukan karena perhatian saya tetap terpaku pada angkasa luar. Melainkan saya pada akhirnya menjadi kecanduan dinosaurus, hahaha…

Saya memang mudah untuk menyukai sesuatu. Pada akhirnya saya tetap menjadi orang yang adiktif terhadap hal-hal yang menarik perhatian saya. Tak salah orang tua saya begitu khawatir melihat tingkah laku saya yang seperti itu. Tetapi, pada akhirnya itu membuat saya berbeda dengan anak-anak seusia saya. Saya menjadi lebih peka. Setiap sore setelah pulang mengaji Qiroati, saya sempatkan untuk menonton serial anak Jepang. Ultraman. Berbagai macam jenis Ultraman dan monster-monsternya saya hafal (saya dulu mengira bahwa dinosaurus itu satu jenis dengan monster-monster Ultraman).

Beberapa bulan kemudian saya menjadi sangat menyukai Ultraman dan bermimpi menikah dengannya. Finally, I know it’s very silly. Karena kemudian saya tahu, bahwa dinosaurus dan monster Ultraman berbeda. Dan saya tahu setelah menonton film Jurrasic Park berkali-kali. Demi melampiaskan kekecewaan karena kebodohan dan salah sangka. Saya banting stir dengan menonton film Lion King dan Discovery Channel (setelah orang tua mengambil keputusan untuk berlangganan tv kabel, saya bisa menonton saluran Discovery yang saat itu belum booming di Indonesia). Endingnya pun bisa ditebak. Saya jadi tergila-gila pada satwa liar.

Ketika kau hilang dari garis pandangku
Dunia seakan ikut tertelan oleh lenyapmu
Aku yang hampa tak mampu berkata
Bahkan bersuara.

Lemahnya diriku tanpa eksistensimu dalam radar penglihatanku
Meski rapuh,
Tak kumiliki teluh

Jiwa dan hati yang mati ini tak lagi memiliki kata
Hingga syair pujian terhenti sampai disini.


Yogyakarta, 18 Maret 2009

Ketika aku jatuh cinta,

Kudapati euphoria dalam diriku manjadi gila.

Ketika aku merasa bahagia,

Beribu bintang pun seakan menyumbang tawa.

Ketika aku ingin bicara,

Rumput dan dedaunan memberi jeda.

Dan ketika aku merasa sepi,

Dunia seolah-olah ikut mati.

Yogyakarta, 17 Maret 2009

Mereka menertawakan saya dan mengatai saya. Mereka bilang saya tolol. Karena saya lebih suka memakai kostum monyet daripada manusia. Karena saya lebih suka bertingkah seperti monyet ketimbang manusia. Saya menertawakan dan mengatai mereka yang menertawakan dan mengatai saya. Saya bilang mereka tolol. Karena mereka lebih suka memakai kostum manusia daripada monyet. Karena mereka lebih suka bertingkah seperti manusia ketimbang monyet. Mereka heran. Maka tampak bertambah tolol lah mereka yang menertawakan dan mengatai saya itu. Saya lebih memilih untuk menjadi monyet yang memang tidak dikaruniai akal lebih oleh Tuhan. Daripada menjadi manusia yang ternyata berakal tak lebih baik dari monyet

Yogyakarta, 21 Maret 2009

TERLARANG

Kala itu, sang Biduan tengah terduduk

Tampak sepi.

Bahkan sunyi…

Adakalanya mata pemuda itu tengah menatap

Mencuri.

Sarat akan kerinduan…

Sunyi seakan tarian

Kidung pun mendung

Lalu,

“Cinta itu adalah sunyi diantara kita…”

Kata pemuda

“Tak kuanggap diam adalah sunyi. Karena masih ada suara diantara kita.”

Jawab Biduan

Dan memang,

Rintik hujan menjadi pengiring episode terlarang mereka

HUJAN

Hujan tak kunjung reda

Seakan ingin menyelimuti mereka

Yang sedang duduk disana

Di bawah pohon palem,

Di antara kemelut rasa,

Biduan itu,

Pemuda itu,

Bersitatap.

Memompa energi rasa

Hingga memenuhi setiap kekosongan

Pada akhirnya,

Hangatnya hujan menjadi milik mereka…

“Andaikan bumi ini hancur, Langit ini runtuh,

Cinta ini takkan seperti bumi dan langit…”

Kata Pemuda.

“Ah, ironi selalu ada. Harapan pun tak jarang menjadi penghalang.”

Jawab Biduan.

Pemuda mendesah.

Berat.

Dalam.

“Mengapa cinta itu menyakitkan seperti ini?”

Risau Pemuda.

Biduan itu memejamkan mata.

“Cinta itu tidak menyakiti kita. Tapi, keadaanlah yang membuat sakit.”

Pohon palem dan rintik hujan

Masih setia menaungi mereka.

EPILOG KERINDUAN

Gerimis yang sama

Situasi yang sama

Tak ada yang berubah.

Tetap Biduan itu,

Tetap Pemuda itu.

Cinta pun, masih seperti itu

Jika kerinduan itu adalah nyata

Maka, mereka tentu akan bersuka cita

Hanya saja,

Cinta dan rindu itu absurd adanya

Dan kelelahan pun menghampiri mereka

Denpasar, 23 September 2008